Saturday, July 30, 2005
episode 2 hati
"aku capek menikah!" capek ngurus anak, ngurus suami, ngurus rumah dan segala tetek bengeknya, muak................nnnnggggggggghhhhhhh!!"
"kenapa kamu bisa berpikir seperti itu? tidak sewajarnya kamu bicara seperti itu, nanti Tuhan marah."
"marah? kalo Tuhan boleh marah apa aku gak boleh marah, gak boleh kesal, gak boleh sebal ?"
"kamu, manusia, boleh saja marah, melampiaskan emosi, meletakkan gelegak sesak di dalam hatimu, tapi tetep harus ada aturan, ada kontrol, ada akal pikiran di dalamnya, tidak sekedar nya seperti manusia buang ludah, puh, cuh."

"intinya aku capek menikah, enakan jadi lajang, gak mirin siapapun." Bangun tidur gak sibuk nyiapin makanan, ngurusin menu makanan, ngatur duit belanja, belon lagi kalo ada trouble, anak sakit, suami sibuk, walah.................kasian benar diriku,"
"bener kah ucapanmu itu ? sudah terpikirkan ? sudah terasakan dalam hatimu yang paling dalam, atau hanya cuman bualan mulut saja yang keluar begitu saja sekedar meluapkan emosi sesaat?"
" bener, saat ini, aku merasa begitu!"
" berpikir jangan pernah berhenti, mandeg sampe saat ini, berpikir harus dengan akal & hati yang jernih, berpikir harus kedepan dan untuk jangka panjang, berarti marahmu pun cuman saat ini saja kan ?"
"tidak!" sampai kapanpun!" aku ingin bebas lagi, tanpa ada ikatan, bisa pergi sesukaku, bisa melancong sesukaku tanpa ada pikiran lain selain aku, aku, aku & Tuhanku."
" hahahaha.................egois sekali kamu ya?" hidup seperti tiada tujuan, hampa, kering, seperti kelontong. Sampai kapan kamu mau hidup bebas, selamanyakah ? bukankah usiamu akan habis dijemput kematian, tubuhmupun akan rapuh, tua renta, lemah, tidak berdaya, seperti bayi lagi, tidak ingatkah kamu nanti? kalo kamu mau melajang, sendirian, siapa bakal mengasihi kamu, dirimu sendiri, ah kasian sekali dirimu, seorang diri bersenag-senang di waktu muda dan seorang diri bersusah - susah di saat sekarat."
"apa urusanmu denganku, ini hidupku, aku sendiri yang akan menanggung, aku gak nyusahin orang lain."
" bagaimana saya tidak peduli, dirimupun juga diriku juga, walopun sekarang kamu lagi sakit, sakit pikiran, saya toh harus peduli padamu, tanpa aku kamu akan mati, dan aku pun kamu juga akan mati, seperti seonggok mayat yang tidak bertuan.

"Tapi bagaimanapun juga kamu telah memilih untuk menikah, telah memilih untu punya anak, bahkan 3 sekaligus. Akankah kau lepaskan mereka? darah dagingmu, pelita hidupmu, penghiburmu ? Tidakkah kau sadari bahwa keluargamu adalah surga duniamu, suamimu adalah sebagai sahabat, teman, ayah, kekasih yang sejati, takkan pernah akan membohongi. Anakmu, liat wajahnya, liat tubuhnya, dengarkan celotehnya, anakmu adalah cermin bagimu, menyenangkan bukan? Dari 3 bidadarimu minimal kamu berhak mendapat 3 ticket ke surga, setimpal dengan kamu mengandungnya selama 9 bulan supuluh hari, capeknya mengurusnya dati bayi sampai detik ini yang akan terus dicatat oleh 2 malaikat dipundakmu, sampai nafas terakhirmu. Tidakkah kau rasakan nikmatnya mempunyai keluarga sendiri, dengannya kamu bisa berbagi disaat sedih maupun disaat senang, kamu akan merasa aman dari intaian pemburu di luar. Terlindungi dari segala hal karena kamu punya keluarga yang senantiasa mencintai & memperhatikanmu. Renungkan hal itu, cari jawabannya di dasar hatimu, tidak ada yang bisa membuat kita merasa seperti manuasia seutuhnya tanpa pernah kita sendiri yang memikirkannya.
termenung, terdiam, tercekat, sunyi, sepi...............hanya airmata yang menetes lembut, pelan, sepelan relung hatiku yang luruh dengan kenyataan.........
posted by widya @ 8:18 AM  
0 Comments:
Post a Comment
<< Home
 
 
About Me



Nameera Ranupadma

Profil

Udah Lewat
Archives
Links
Affiliates
15n41n1